Secangkir teh, Hujan, dan Kita
“Mari kita lupakan hujan ini!”
Aku diam, menunduk dalam, seakan tak mendengar padahal tengah meredakan gemuruh di dada.
Lalu aku menjawab : “Baiklah! Kita lupakan juga cangkir-cangkir teh ini!”.
Kini kau ambil giliran untuk terdiam, menunduk dalam, dan mungkin juga tengah menahan gemuruh di dada.
Kita sama-sama tak mengerti dengan sketsa cerita yang ternyata.
Sama-sama terjebak dalam dialog yang sebenarnya tak lagi bernyawa.
Harus ku akui, kita sama-sama “tak ingin” sebenarnya!Hujan (tak turun) Bulan Juni
Aku diam, menunduk dalam, seakan tak mendengar padahal tengah meredakan gemuruh di dada.
Lalu aku menjawab : “Baiklah! Kita lupakan juga cangkir-cangkir teh ini!”.
Kini kau ambil giliran untuk terdiam, menunduk dalam, dan mungkin juga tengah menahan gemuruh di dada.
Kita sama-sama tak mengerti dengan sketsa cerita yang ternyata.
Sama-sama terjebak dalam dialog yang sebenarnya tak lagi bernyawa.
Harus ku akui, kita sama-sama “tak ingin” sebenarnya!Hujan (tak turun) Bulan Juni
