Me & IELTS
Selama satu bulan ini saya mengikuti program IELTS preparation. Mengingat negara tujuan studi saya mengharuskan kualifikasi IELTS diatas 6, dan karena Bahasa Inggris saya cukup (cukup pas-pasan maksudnya,hehe…) serta biaya tes IELTS yang “lumayan” untuk ukuran kantong saya, maka akhirnya saya memutuskan ambil program preparation ini.Sebelum kegiatan belajar dimulai, para peserta diharuskan mengikuti diagnostic test yang dimaksudkan untuk mengukur berapa skor dan kemampuan dasar sebelum mengikuti preparation. Dengan melihat hasil skor diagnostic awal, cukup membuat saya meringis, saking jauhnya hasil skor dari harapan. Tapi jujur saja, ketika diagnostic test berlangsung saya benar-benar baru melihat bahwa bentuk soal IELTS itu amat sangat berbeda sekali dengan tes kemampuan Bahasa Inggris lain semisal TOEFL. Di awal-awal belajar jujur saja, sebenarnya saya merasa sedikit putus asa. Tapi, perasaan ini berangsur-angsur hilang dan menjadi semangat luar biasa. Memang diperlukan kerja keras dan kesabaran yang konsisten, ingat mempelajari IELTS tidak dapat dilakukan secara instan! Tes IELTS akan dibagi menjadi 4 jenis tes: Listening, Reading, Writing, dan Speaking.
Listening
Untuk listening ada beberapa bentuk soal yaitu: pilihan ganda dan soal isian yang biasanya harus dijawab dengan “No More Than Three/Two Words”. Bentuk soal dalam IELTS seringkali menggunakan synonime, artinya bentuk kalimat yang ada di jawaban seringkali berbeda dengan kalimat dalam soal, oleh karena itu diperlukan pemahaman dan kejelian dalam mendengarkan dialog dalam soal.
Reading
Bentuk soal reading didahului dengan sebuah artikel yang akan menjadi bahan untuk menjawab soal-soal. Bentuk soal biasanya mencocokan antara kalimat dan paragraf, melengkapi diagram, melengkapi kesimpulan, dan statement agree dengan bentuk (Yes/No/Not Given).
Writing
Di dalam soal writing ada dua jenis soal, Task 1 dan Task 2 yang akan meminta penjelasan mengenai diagram/grafik/ilustrasi dan juga pemaparan opini dalam 150-250 kata.
Speaking
Tes speaking merupakan tes dengan examiner yang akan mengajukan beberapa pertanyaan dengan tiga kategori, yaitu: basic information, pertanyaan dengan Q card, dan Two Way Discussion. Karena IELTS biasanya dilakukan untuk persyaratan melanjutkan studi, maka soal yang diberikan pun bersifat akademis. Oleh karena itu jawaban-jawaban yang diberikan harus akademis dan menunjukan kerangka berpikir yang sistematis. Ini akan terlatih dengan sendirinya ketika kita melakukan banyak latihan.Sebenarnya tidak ada tips khusus untuk meningkatkan skor IELTS, yang ada hanya kesabaran dan kerja keras. Dengan skor awal yang cukup jongkok pada saat diagnostic, saya memaksa diri untuk terus melakukan latihan. Dari mulai spelling, reading, nonton DVD tanpa subtitle, sampe ngomong sendiri di depan kaca. It works!!! Pada saat mid-test skor saya meningkat 100%. Jadi kunci yang sebenarnya adalah nyalakan terus semangat dan sabar dengan prosesnya. Berusaha saja sekuatnya, Allah akan melihat usahamu. Good luck! ^_^
Listening
Untuk listening ada beberapa bentuk soal yaitu: pilihan ganda dan soal isian yang biasanya harus dijawab dengan “No More Than Three/Two Words”. Bentuk soal dalam IELTS seringkali menggunakan synonime, artinya bentuk kalimat yang ada di jawaban seringkali berbeda dengan kalimat dalam soal, oleh karena itu diperlukan pemahaman dan kejelian dalam mendengarkan dialog dalam soal.
Reading
Bentuk soal reading didahului dengan sebuah artikel yang akan menjadi bahan untuk menjawab soal-soal. Bentuk soal biasanya mencocokan antara kalimat dan paragraf, melengkapi diagram, melengkapi kesimpulan, dan statement agree dengan bentuk (Yes/No/Not Given).
Writing
Di dalam soal writing ada dua jenis soal, Task 1 dan Task 2 yang akan meminta penjelasan mengenai diagram/grafik/ilustrasi dan juga pemaparan opini dalam 150-250 kata.
Speaking
Tes speaking merupakan tes dengan examiner yang akan mengajukan beberapa pertanyaan dengan tiga kategori, yaitu: basic information, pertanyaan dengan Q card, dan Two Way Discussion. Karena IELTS biasanya dilakukan untuk persyaratan melanjutkan studi, maka soal yang diberikan pun bersifat akademis. Oleh karena itu jawaban-jawaban yang diberikan harus akademis dan menunjukan kerangka berpikir yang sistematis. Ini akan terlatih dengan sendirinya ketika kita melakukan banyak latihan.Sebenarnya tidak ada tips khusus untuk meningkatkan skor IELTS, yang ada hanya kesabaran dan kerja keras. Dengan skor awal yang cukup jongkok pada saat diagnostic, saya memaksa diri untuk terus melakukan latihan. Dari mulai spelling, reading, nonton DVD tanpa subtitle, sampe ngomong sendiri di depan kaca. It works!!! Pada saat mid-test skor saya meningkat 100%. Jadi kunci yang sebenarnya adalah nyalakan terus semangat dan sabar dengan prosesnya. Berusaha saja sekuatnya, Allah akan melihat usahamu. Good luck! ^_^
