Ku_Pu
Bermain di taman dunia, aku berlari dan melompat kesana kemari. Harum bunga semerbak mewangi, memanja penciuman dan menerbangkan penglihatan. Satu pandangan mata terjatuh, pada kupu-kupu cantik bersayap warna-warni. Setiap kepakannya menebar wangi, wangi surga yang abadi. Oh… ingin aku menangkap sejenak, kupu-kupu bersayap warna-warni, hanya ingin menyentuh sayapnya dan menyimpan wanginya di hati. Aku terlelap dengan mimpi, menangkap kupu-kupu tadi. Bukan ingin memiliki, hanya ingin menyentuh wangi, yang diterbangkan angin syurga dan disampaikan malaikat ke bumi. Kupu-kupu tak pernah tahu, karena ia hanyalah kupu-kupu, bukan kijang bukan rusa, bukan leopard ataupun pantera, dia hanyalah kupu-kupu. Dengan rapuh sayapnya, dengan kecil tubuhnya,namun sayapnya kepakkan wangi, wangi syurga yang aku suka. Kupu-kupu terbang kesana-kemari, membuatku semakin susah saja menyentuhnya sekejap. Lagi-lagi dia tak pernah tau, karena dia hanyalah kupu-kupu. Aku berjalan di bawah kepakan sayapnya, tak apa ia tak hinggap, mencium wanginya saja adalah bahagia. Dan mengejarnya adalah istimewa, karena ia terbang dan tak hinggap. Oh…kupu-kupu cantik dengan kepakan wangi syurga, izinkan aku menyentuhmu sekejap saja. Tiba-tiba ia terdiam, tak lagi terbang ataupun tertahan. Dia menari pelan di atas kelopak dahan. Ini kesempatan, aku akan menyentuh sejenak dan kemudian pergi. Bukan hanya pergi mungkin aku akan mati, membawa wanginya yang abadi dan membaurkannya kembali di syurga. Aku mengendap, pelan dan sunyi agar dia tak pergi. Bidadari memandangi, mereka turut bahagia dan bersukacita. Sekejap lagi wangi syurga dari kepakan itu akan jadi nyata. Langit pun tak kalah gembira, bersorak sorai dan tak henti tawanya. Angin tak lagi manja, ia berjingkrak dan meliuk bertenaga. Ah…jangan terlalu ribut kawan! kalian akan membuat kupu-kupuku terbang dan tak hinggap lagi. Astaga! Benar saja, kupu-kupu pun terbang, terbang selama-lamanya. Berdiri di bawah kepakannya saja kini tak bisa. Ah… kupu-kupuku terbang sudah, sayap warna-warni dan kepakan wangi sirna. Dan aku masih disini, meratapi nasib terjebak di dunia mimpi. Menunduk dalam, kupu-kupuku pergi sudah… |

