galantri's posterous

Drama Per-Taksi-an di Lingkungan Rumah Sakit

Taxi

Kemarin 09 Maret 2012, secara tiba-tiba Babap (panggilan saya untuk Bapak) harus dibawa ke Rumah Sakit karena serangan vertigo. Singkat cerita, tibalah saya di Rumah Sakit tempat Babap ditangani dan  Alhamdulillah kondisi Babap sudah lebik baik dibanding dua jam sebelumnya. Karena merasa bahwa gejala vertigo sudah tidak terlalu hebat dan mengingat kondisi ruang UGD yang tidak nyaman sekali untuk dipakai istirahat, maka saya dan Babap akhirnya sepakat untuk mengurus kepulangan.

Sebelum saya datang, sebetulnya Babap dijaga oleh Abah (Kakak laki-laki saya), namun karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan maka sayalah yang menggantikan beliau menjaga Babap. Setelah bertanya kepada perawat mengenai kondisi terakhir Babap dan mendapat persetujuan dokter mengenai kepulangan,saya membereskan seluruh urusan administrasi. Karena Abah tidak memungkinkan datang dalam waktu cepat maka kami putuskan untuk pulang menggunakan taksi.  Berhubung kedatangan taksi pun memerlukan waktu setelah pemesanan, maka sebelum mengurus pembayaran saya menelepon salah satu armada taxi langganan agar waktu lebih efektif, berikut kutipannya:

Mba Costumer Service

:

xxx (Nama armada taksi) Selamat sore.. dengan Susi (Bukan nama sebenarnya ^_^) ada yang bisa dibantu?

Me

:

Selamat sore mba..saya mau order

Mba Costumer Service

:

Bisa dibantu nomer teleponnya ibu…

Me

:

0857xxxxxxx

Mba Costumer Service

:

Dengan Ibu Mira?

Me

:

Betul mba…

Mba Costumer Service

:

Dijemput dimana ibu?

Me

:

Di RS. X ya mba, di depan UGD nya aja…

Mba Costumer Service

:

Mmm… Mohon maaf ibu nampaknya tidak bisa dijemput ke dalam, paling kami bisa arahkan ke depan Metro ibu…bagaimana?

Me

:

Waduh! Saya bawa orang sakit ini mba, kayanya ga bisa jalan jauh, memang ada masalah apa mba kalo ke dalem RS?

Mba Costumer Service

:

Mohon maaf ibu, tapi itu wilayah armada taxi yang lain

Me

:

Ooo…gitu ya…ya udah mba ga papa, kalo jadi nanti saya telpon lagi aja ya…

Mba Costumer Service

:

Iya ibu, mohon maaf sekali lagi…Selamat Sore

Me

:

Sore mba…

 

Nah…sampai disini keselnya belum dimulai, karena saya juga memang pernah mendengar bahwa ada wilayah-wilayah tertentu yang dikuasai oleh armada-armada tertentu pula. Jadi its ok lah, dalam pikiran saya, toh saya masih bisa panggil supir taksi di depan Rumah Sakit.

Setelah mengurus administrasi kepulangan Babap, saya berjalan menuju ke depan Rumah Sakit untuk memanggil taksi yang biasanya menunggu penumpang di pinggir jalan. Kondisi pada saat itu hujan, dan entah kenapa secara tiba-tiba armada taksi yang biasanya berjejer sampe tiga atau empat mobil, sekarang hanya ada satu dengan nama armada yang sebetulnya sudah saya blacklist karena pelayanannya tidak memuaskan. Tapi ya…karena khawatir babap menunggu lebih lama akhirnya apa boleh buat. Saya hampiri taksi tersebut dan disinilah cerita kekesalan itu bermulai:

Me

:

Narik pak? (sambil ngetok-ngetok kaca mobil)

Supir Taksi Y

:

Iya (Mengangguk sambil kaca mobil tetap tertutup)

Me

:

Bapak narik ga?! (dengan suara lebih keras)

Supir Taksi Y

:

Iya (Menjawab dengan lebih keras)

Karena si Supir taksi tetap tidak membuka jendela akhirnya saya buka pintu belakang  

Me

:

Minta ke dalem RS ya pak, saya mau jemput pasien

Supir Taksi Y

:

Ke dalem RS? Ga bisa mundur bu?! (Posisi Mobil sekitar 2 meter setelah pintu masuk RS)

Me

:

Oo gitu ya? Pelan-pelan juga ga bisa ya pak?

Supir Taksi Y

:

Susah bu! Itu kan keluar masuk mobil! (dengan nada suara lebih tinggi)

Emang ibu tujuannya mau kemana?

Me

:

Ke Cibiru pak, jadi gimana niy bapak mau ngga?!

Supir Taksi Y

:

Pasiennya aja bu dibawa kesini!

Me

:

Apa?!!!

Supir Taksi Y

:

Pasiennya bisa jalan ga? disuruh jalan aja dulu bu kesini, Karena kalo harus mundur susah ini

Me

:

Ga usah!!! Ga jadi aja!!!

 

Permasalahannya bagi saya bukan masalah mundur susah atau gampang, tapi tolonglah layani pelanggan dengan baik dan sopan. Jika memang pelanggan meminta hal yang sulit untuk dilakukan, setidaknya berilah solusi lain yang lebih memungkinkan. Andai saja sang supir mengerti etika komunikasi dengan pelanggan, mungkin dia tidak harus kehilangan calon pelanggannya hanya dengan bersikeras mengatakan bahwa dia tidak bisa mundur dan malah menyuruh pasien berjalan. Ekspektasi saya pada saat itu, si supir dengan baik-baik bilang bahwa kondisinya sulit untuk mundur dan kemudian memberi solusi untuk berputar terlebih dahulu, bukankah hal itu lebih solutif?.

Akhirnya karena kesal dan sepertinya sulit sekali untuk mendapatkan armada taksi yang mau masuk ke wilayah Rumah Sakit, saya memutuskan untuk meminta jemput kakak saya kembali dengan resiko menunggu lebih lama. Sebetulnya poin dari kejadian ini bukan hanya masalah “kesal-kesalan” karena tidak mendapat taksi akan tetapi berikut beberapa hal yang saya garis bawahi dari kejadian ini:

1.       Penguasaan wilayah-wilayah tertentu oleh armada taksi

Saya tidak mempermasalahkan hal penguasaan wilayah, saya pikir boleh lah menguasai satu wilayah dengan nama armada tertentu, tapi tolong lah…berikan pelayanan yang baik dan nyaman terhadap penumpang.

 

2.       Rumah Sakit tidak memfasilitasi

Dengan kejadian tersebut saya jadi berpikir sepertinya pihak RS pun tidak memberikan fasilitas khusus tempat “mangkal” taksi. Hal ini terlihat dari kebiasaan taksi yang mangkal dipinggir jalan. Seharusnya hal ini diperhatikan pula sebagai sumber ketidaknyamanan pengunjung RS, pertama akan berpotensi membuat macet, kedua akan terjadi momen “taksi sulit mundur” seperti yang saya alami.

 

3.       Pelayanan minus = Black list

Saya tidak tahu apakah setiap armada taksi memiliki standard pelayanan prima terhadap pelanggan? Karena sebetulnya hal ini akan berpengaruh sekali terhadap loyalitas pelanggan dalam menggunakan satu merk armada tertentu.

 

Di luar daripada itu saya hanya mengharapkan bahwa seharusnya hubungan penyedia dan penerima jasa berjalan dengan harmonis. Penyedia jasa mendapat keuntungan penerima jasa mendapat kepuasan pelayanan. Bukankah itu kunci dari keberlangsungan bisnis jangka panjang? []

Posted March 9, 2012

10032012

Andai kau tahu

Aku disini menurunkan langitku

memilih menunda bahagiaku

untukmu.

Posted March 9, 2012

Konkusio

 

“Konkusio” merupakan sebuah istilah medis yang berkaitan dengan kehilangan kesadaran dan ingatan akibat cedera pada otak. Istilah ini saya temukan setelah dengan amat panasaran mencari artikel mengenai gangguan ingatan pasca benturan kepala. Hal ini didorong karena beberapa ingatan saya tidak dapat di- recall pasca kejadian kecelakaan beberapa waktu lalu. Akhirnya pencarian saya terjawab lengkap di sebuah situs beralamat http://medicastore.com/penyakit/687/Cedera_Kepala.html berikut saya bagi sebagian kutipannya :

Konkusio merupakan suatu kondisi hilangnya kesadaran (dan kadang ingatan) sekejap, setelah terjadinya cedera pada otak yang tidak menyebabkan kerusakan fisik yang nyata. Konkusio menyebabkan kelainan fungsi otak tetapi tidak menyebabkan kerusakan struktural yang nyata. Hal ini bahkan bisa terjadi setelah cedera kepala yang ringan, tergantung kepada goncangan yang menimpa otak di dalam tulang tengkorak.

Konkusio bisa menyebabkan kebingungan, sakit kepala dan rasa mengantuk yang abnormal; sebagian besar penderita mengalami penyembuhan total dalam beberapa jam atau hari. Beberapa penderita merasakan pusing, kesulitan dalam berkonsentrasi, menjadi pelupa, depresi, emosi atau perasaannya berkurang dan kecemasan.

Gejala-gejala ini bisa berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa minggu, jarang lebih dari beberapa minggu. Penderita bisa mengalami kesulitan dalam bekerja, belajar dan bersosialisasi. Keadaan ini disebut sindroma pasca konkusio. Sindroma pasca konkusio masih merupakan suatu teka-teki; tidak diketahui mengapa sindroma ini biasanya terjadi setelah suatu cedera kepala yang ringan.

Para ahli belum sepakat, apakah penyebabkan adalah cedera mikroskopi atau faktor psikis. Pemberian obat-obatan dan terapi psikis bisa membantu beberapa penderita sindroma ini. Yang lebih perlu dikhawatirkan selain sindroma pasca konkusio adalah gejala-gejala yang lebih serius yang bisa timbul dalam beberapa jam atau kadang beberapa hari setelah terjadinya cedera.

Jika sakit kepala, kebingungan dan rasa mengantuk bertambah parah, sebaiknya segera mencari pertolongan medis. Biasanya, jika terbukti tidak terdapat kerusakan yang lebih berat, maka tidak diperlukan pengobatan. Setiap orang yang mengalami cedera kepala diberitahu mengenai pertanda memburuknya fungsi otak. Selama gejalanya tidak semakin parah, biasanya untuk meredakan nyeri diberikan asetaminofen.

 

It Called “Destiny”


Holaa…lama sekali nampaknya saya tidak menyentuh tuts keyboard, jika diingat-ingat tepatnya  10 hari sejak kecelakaan yang cukup membuat saya “terkapar” selama beberapa hari. It’s all about destiny! Sesuai judul yang saya munculkan diatas, semua memang sudah menjadi takdir bagi saya untuk mengalami sebuah kecelakaan di hari Minggu malam 09 Oktober 2011 pukul 19.00 WIB.


Sedikit flashback saja, pada saat itu saya beranjak pulang setelah bertemu seorang teman dan berbincang cukup lama dengannya di sebuah café di jl. Soekarno Hatta-Bandung. Setelah perbincangan selesai dan khawatir pulang terlalu malam, akhirnya kami beranjak pulang.


Pulang tanpa firasat apapun, kami berdua berjalan ke tepi jalan,bermaksud menyebrang. Kondisi jalan pada saat itu tidak padat, namun memang sedikit gelap karena penerangan jalan yang ada kurang memadai. Jl.soetta yang cukup lebar dan kecepatan kendaraan yang rata-rata tinggi, mengharuskan kami menunggu hingga jalan benar-benar aman untuk disebrangi.


Sebrangan pertama aman, kami kemudian menunggu di tengah pembatas jalan untuk sebrangan kedua. Ketika akan menyebrang kedua kalinya, dari jauh memang sudah terlihat sebuah motor, kami kemudian menyebrang karena masih mengukur jarak tersebut aman. Ketika sudah berada di tengah sebrangan, motor semakin mendekat,tetap melaju kencang dan tidak berusaha menghindar.


Akhirnya tabrakan terjadi, menurut info saya tertabrak hingga terpental, kondisi rekan saya tidak begitu parah, karena posisi saya sebelah kiri dan arah motor dari arah kiri pula. Dampak dari kejadian tersebut saya kehilangan beberapa memori (Hingga saat ini masih dalam pemulihan dan tetap harus dilatih),tangan kanan retak, kepala memar, kaki kanan dijahit, dan kaki kiri luka-luka. Kondisi barang-barang yang saya bawa tidak jauh berbeda, kacamata pecah, smua gadget di dalam tas (laptop & handphone) pun dalam kondisi retak-retak.


Namun, di atas smua yg terjadi saya bersyukur sekali karena masih diberi kekuatan dan kemampuan,alhamdulillah… Semoga Allah yang Maha Besar menganugerahkan pula pemahaman pada saya atas lautan hikmah dari kejadian ini.


The last but not least… Terima kasih banyak kepada rekan, sahabat,saudara yang tak henti-hentinya memberi doa dan support, semoga Allah SWT membalas dengan yang lebih baik. Amin…

 

Nak,letakan dunia di tanganmu bukan di hatimu!

Surat Kepada Calon Pendamping

Wahai engkau calon pendampingku...

Semalam aku bermimpi, bertemu denganmu sebagai suamiku. Dalam sebuah perjalanan panjang, panas terik dan lapar menjadi teman kita, namun kau hanya ingin terus berjalan. Tak berapa lama kau mengajakku berhenti, menggenggam tanganku erat, lalu aku bertanya: “Kita akan kemana?” . Kau hanya menjawab dengan senyummu. Aku mengikuti langkahmu, pelan namun pasti, tampaklah sebuah pasar di hadapan. Kau tetap menggenggam tanganku dan tersenyum lalu berkata : “Aku akan membelikanmu sepasang sandal sayang...”

Aku tertunduk, merasa bahagia namun perlahan-lahan menjadi sedih yang tak tertahankan. Aku menangis, kau memelukku dan berkata “Jangan menangis sayang”. Aku memandang matamu lekat dan kaupun kembali memelukku erat sambil berkata “Jangan menangis sayang”. Aku semakin tersedu, di pelukanmu tentu, dan kau semakin memelukku dan berkata “Jangan menangis sayang, aku akan membelikanmu sepasang sandal” kali ini air matamu pun jatuh. Tahukah kau wahai calon pendampingku? Dalam mimpi itu aku tak punya sepasang kaki.

Wahai engkau calon pendampingku...

Maukah kau menerima aku dengan segala ketidaksempurnaan aku kini dan kelak...?

Refleksi Mimpi 28 September 2011

“Menceburkan” Diri Dalam Wirausaha

Judul yang aneh ya? Haha, tak apalah karena saya juga bingung bagaimana mencari diksi yang tepat bagi postingan kali ini. “Mencebur” merupakan suatu aktifitas menjatuhkan (membuang) sesuatu ke dalam air, adapun menceburkan diri tentunya tak jauh pengertiannya dari definisi tersebut.

Lalu apa yang ingin saya bagi tentang “cebur-mencebur” ini? Banyak dari kita mungkin memiliki keinginan yang menggebu sekali untuk melakukan satu aktifitas wirausaha. Beberapa mungkin sudah lebih maju dengan melakukan sedikit riset dan analisis kecil-kecilan, tapi cukupkah itu? Tentu tidak! Ibarat orang yang ingin belajar berenang, akankah anda dapat mahir berenang jika hanya berdiri di tepian memperhatikan kolam dan menerka-nerka kedalaman air yang akan diselami, How come?! Mencebur saja tidak. Begitupun wirausaha, akankah kita tahu sejauh mana kegiatan usaha itu dapat memberikan keuntungan jika mencoba melangkah pun tidak? Takut rugi? Bukan alasan! Karena anda tidak akan dapat memahami nikmatnya berusaha tanpa jatuh bangun di dalamnya!

Memang tidak mudah membulatkan niat dan mewujudkannya dalam langkah, seringkali pikiran dan pertimbangan yang “terlalu” panjang menjadikan usaha layu sebelum berkembang atau lebih tepatnya bangkrut sebelum berjalan. Mungkin anda berpikir bagaimana bisa usaha bangkrut sebelum dijalankan? Tentu bisa! Semua pikiran dan pertimbangan yang terlalu panjang itu pada akhirnya menyampaikan kita pada suatu kesimpulan bahwa usaha yang kita rencanakan akan membuahkan kerugian. Betul kan? Saya yakin betul! karena sayapun pernah mengalami hal yang sama.

Mari kita pelajari ilustrasi berikut:

Pak Bagus mencoba menjalankan usaha budidaya lele. Menurut informasi yang dia dapatkan, usaha budidaya lele sangat menguntungkan dengan sistem pemasaran yang tidak begitu rumit. Setelah tiga bulan berjalan, ternyata semua tak seperti yang dibayangkan. Perkembangan lele tidak berjalan mulus, hampir 70% lele yang mati. Belum lagi operasional yang membengkak karena biaya pakan yang tinggi. Dari seluruh modal yang dikeluarkan, Pak Bagus masih belum dapat menghasilkan keuntungan bahkan dapat dikatakan mengalami kerugian.

Tapi benarkah apa yang dialami Pak Bagus di atas adalah sebuah kerugian? Tentu saja tidak! Banyak pelajaran yang dapat diambil oleh Pak Bagus. Setelah budidaya lele yang kurang baik itu mungkin akan terpikirkan bagaimana pengkondisian media lele agar lebih support? Bagaimana sistem pengaturan pemberian pakan agar lebih efektif dan efisien?  Atau mungkin apa alternatif pakan yang dapat diberikan?  Lalu, masihkah itu dikatakan sebuah kerugian? Jika boleh saya komentari, Pak Bagus sesungguhnya bukan mengalami kerugian dari modalnya yang tidak kembali, tapi sedang melakukan investasi pembelajaran bagi dirinya sendiri untuk melanjutkan kegiatan usaha yang lebih baik.

Dari ilustrasi di atas kita dapat mempelajari bahwa terkadang dalam berwirausaha kita akan menghadapi hal-hal yang kita pikir di luar batas kemampuan kita. Rumit, sulit, tidak mengerti, bahkan terkadang sampai putus asa itu adalah hal yang lumrah, namun menyerah begitu sajakah? Tentu saja tidak! Dibutuhkan mental pemberani dan pantang menyerah untuk menghadapi semua tantangan dalam berwirausaha. Dan kita harus yakin bahwa kita adalah pemenang. Lalu, apa yang harus dilakukan kemudian? Jangan terlalu lama berdiri di tepian kolam! Mencebur saja!

Diam

Diam tak lagi bersahabat
Dalam bentuknya yang tak lagi biasa
Dia menjelma menjadi perupa
Menjalin pendar-pendar menemukan kobarannya
Dalam nyata yang sejatinya adalah bara

Babap

Malam ini saya sampai di rumah cukup larut, ada beberapa hal yang harus diselesaikan. Pekerjaan? Ya, tentu saja. Babap tak pernah marah karena saya pulang larut, karena biasanya saya sudah memberitahukan minimal 2 jam sebelumnya bahwa saya akan pulang telat. Tapi apakah dengan begitu beliau tidak khawatir? Tentu saja iya. Namun sekali lagi, ia tak pernah sekalipun memarahi saya, dan jujur saja justru dengan begitu saya amat sangat merasa bersalah jadinya.

Seisi rumah sudah terlelap, termasuk Babap, tertidur pulas di ruang tengah menunggu anak bungsunya pulang. Tiba-tiba haru sekali rasanya, dalam balutan malam yang hening saya terdiam, memandangi Babap yang tertidur pulas. Garis wajahnya seperti lelah, namun tak pernah sedikitpun saya dengar keluhan diucapkan olehnya. Tiba-tiba saya merasa ingin sekali memeluknya (yang sedang tertidur lelap itu), mengatakan padanya bahwa saya sungguh sangat menyayanginya, memohon maaf karena saya belumlah dapat memberi hal-hal terbaik untuknya.
Babap tak pernah menuntut apapun dari saya, tak pernah meminta apapun dari saya, membiarkan saya memilih apa yang ingin saya pilih, selalu mendukung apapun cita-cita dan mimpi saya walaupun terkadang mungkin itu berat untuknya. Babap tak pernah komplain dengan sikap idealis saya yang terkadang tidak realistis. Tapi itulah Babap, selalu luar biasa mendukung dan membuat saya yakin bahwa semua mimpi itu akan dapat diwujudkan.

Kali ini saya ingin sedikit bernostalgia, mengenang masa-masa indah bersama babap. Saya masih ingat, ketika babap menjemput saya pada saat sekolah dasar. Sepulang bekerja, dalam kondisi lelah tentunya, dan di tengah hujan lebat, Babap menunggu di luar kelas, dengan payung di tangan menunggu saya keluar kelas lalu pulang bersamanya. Dan sayapun masih ingat ketika Babap berusaha sekuat tenaga membuatkan saya sebuah ‘katapel’ karena saya terus menerus merengek meminta katapel supaya bisa bermain dengan teman-teman yang lain. Saya masih ingat pula dengan jelas, saat Babap membeli koran pagi-pagi, hanya untuk melihat nama saya tercantum dalam daftar nama-nama yang lulus SPMB. Saya masih ingat ketika Babap sudah bangun dan bersiap sejak pukul 04.00 shubuh hanya untuk mengantar saya yang pada saat itu tengah mengikuti Ospek. Saya juga masih ingat ketika Babap membuka pintu kamar saya dan bertanya “belum tidur?” ketika saya tengah menunggu beratus2 lembar skripsi selesai di-print. Saya masih ingat, ketika mata Babap berkaca-kaca melihat saya memakai toga. Dan sayapun masih ingat ketika bulan lalu maag kronis saya kambuh dan saya collaps, di tengah perjalanan menuju UGD Babap memeluk saya erat dan berkata “harus kuat!seperti kamu yang biasanya kuat!harus kuat!”. Saya masih ingat semua itu...

Saya masih ingat semua masa-masa itu, dan saya pun akan terus mengingat bahwa malam ini saya duduk di depan Babap yang tengah tertidur pulas, memandangi wajahnya, dan berjanji bahwa saya akan membuatnya bahagia.

Babap

Malam ini saya sampai di rumah cukup larut, ada beberapa hal yang harus diselesaikan. Pekerjaan? Ya tentu saja. Babap tak pernah marah karena saya pulang larut, karena biasanya saya sudah memberitahukan minimal 2 jam sebelumnya bahwa saya akan pulang telat. Tapi apakah dengan begitu beliau tidak khawatir? Tentu saja iya. Namun sekali lagi, ia tak pernah sekalipun memarahi saya, dan jujur saja justru dengan begitu saya amat sangat merasa bersalah jadinya.

Seisi rumah sudah terlelap, termasuk Babap, tertidur pulas di ruang tengah menunggu anak bungsunya pulang. Tiba-tiba haru sekali rasanya, dalam balutan malam yang hening saya terdiam, memandangi Babap yang tertidur pulas. Garis wajahnya seperti lelah, namun tak pernah sedikitpun saya dengar keluhan diucapkan olehnya. Tiba-tiba saya merasa ingin sekali memeluknya (yang sedang tertidur lelap itu), mengatakan padanya bahwa saya sungguh sangat menyayanginya, memohon maaf karena saya belumlah dapat memberi hal-hal terbaik untuknya.
Babap tak pernah menuntut apapun dari saya, tak pernah meminta apapun dari saya, membiarkan saya memilih apa yang ingin saya pilih, selalu mendukung apapun cita-cita dan mimpi saya walaupun terkadang mungkin itu berat untuknya. Babap tak pernah komplain dengan sikap idealis saya yang terkadang tidak realistis. Tapi itulah Babap, selalu luar biasa mendukung dan membuat saya yakin bahwa semua mimpi itu akan dapat diwujudkan.

Kali ini saya ingin sedikit bernostalgia, mengenang masa-masa indah bersama babap. Saya masih ingat, ketika babap menjemput saya pada saat sekolah dasar. Sepulang bekerja, dalam kondisi lelah tentunya, dan di tengah hujan lebat, Babap menunggu di luar kelas, dengan payung di tangan menunggu saya keluar kelas lalu pulang bersamanya. Dan sayapun masih ingat ketika Babap berusaha sekuat tenaga membuatkan saya sebuah ‘katapel’ karena saya terus menerus merengek meminta katapel supaya bisa bermain dengan teman-teman yang lain. Saya masih ingat pula dengan jelas, saat Babap membeli koran pagi-pagi, hanya untuk melihat nama saya tercantum dalam daftar nama-nama yang lulus SPMB. Saya masih ingat ketika Babap sudah bangun dan bersiap sejak pukul 04.00 shubuh hanya untuk mengantar saya yang pada saat itu tengah mengikuti Ospek. Saya juga masih ingat ketika Babap membuka pintu kamar saya dan bertanya “belum tidur?” ketika saya tengah menunggu beratus2 lembar skripsi selesai di-print. Saya masih ingat, ketika mata Babap berkaca-kaca melihat saya memakai toga. Dan sayapun masih ingat ketika bulan lalu maag kronis saya kambuh dan saya collaps, di tengah perjalanan menuju UGD Babap memeluk saya erat dan berkata “harus kuat!seperti kamu yang biasanya kuat!harus kuat!”. Saya masih ingat semua itu...

Saya masih ingat semua masa-masa itu, dan saya pun akan terus mengingat bahwa malam ini saya duduk di depan Babap yang tengah tertidur pulas, memandangi wajahnya, dan berjanji bahwa saya akan membuatnya bahagia.