Drama Per-Taksi-an di Lingkungan Rumah Sakit
| Kemarin 09 Maret 2012, secara tiba-tiba Babap (panggilan saya untuk Bapak) harus dibawa ke Rumah Sakit karena serangan vertigo. Singkat cerita, tibalah saya di Rumah Sakit tempat Babap ditangani dan Alhamdulillah kondisi Babap sudah lebik baik dibanding dua jam sebelumnya. Karena merasa bahwa gejala vertigo sudah tidak terlalu hebat dan mengingat kondisi ruang UGD yang tidak nyaman sekali untuk dipakai istirahat, maka saya dan Babap akhirnya sepakat untuk mengurus kepulangan. Sebelum saya datang, sebetulnya Babap dijaga oleh Abah (Kakak laki-laki saya), namun karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan maka sayalah yang menggantikan beliau menjaga Babap. Setelah bertanya kepada perawat mengenai kondisi terakhir Babap dan mendapat persetujuan dokter mengenai kepulangan,saya membereskan seluruh urusan administrasi. Karena Abah tidak memungkinkan datang dalam waktu cepat maka kami putuskan untuk pulang menggunakan taksi. Berhubung kedatangan taksi pun memerlukan waktu setelah pemesanan, maka sebelum mengurus pembayaran saya menelepon salah satu armada taxi langganan agar waktu lebih efektif, berikut kutipannya:
Nah…sampai disini keselnya belum dimulai, karena saya juga memang pernah mendengar bahwa ada wilayah-wilayah tertentu yang dikuasai oleh armada-armada tertentu pula. Jadi its ok lah, dalam pikiran saya, toh saya masih bisa panggil supir taksi di depan Rumah Sakit. Setelah mengurus administrasi kepulangan Babap, saya berjalan menuju ke depan Rumah Sakit untuk memanggil taksi yang biasanya menunggu penumpang di pinggir jalan. Kondisi pada saat itu hujan, dan entah kenapa secara tiba-tiba armada taksi yang biasanya berjejer sampe tiga atau empat mobil, sekarang hanya ada satu dengan nama armada yang sebetulnya sudah saya blacklist karena pelayanannya tidak memuaskan. Tapi ya…karena khawatir babap menunggu lebih lama akhirnya apa boleh buat. Saya hampiri taksi tersebut dan disinilah cerita kekesalan itu bermulai:
Karena si Supir taksi tetap tidak membuka jendela akhirnya saya buka pintu belakang
Permasalahannya bagi saya bukan masalah mundur susah atau gampang, tapi tolonglah layani pelanggan dengan baik dan sopan. Jika memang pelanggan meminta hal yang sulit untuk dilakukan, setidaknya berilah solusi lain yang lebih memungkinkan. Andai saja sang supir mengerti etika komunikasi dengan pelanggan, mungkin dia tidak harus kehilangan calon pelanggannya hanya dengan bersikeras mengatakan bahwa dia tidak bisa mundur dan malah menyuruh pasien berjalan. Ekspektasi saya pada saat itu, si supir dengan baik-baik bilang bahwa kondisinya sulit untuk mundur dan kemudian memberi solusi untuk berputar terlebih dahulu, bukankah hal itu lebih solutif?. Akhirnya karena kesal dan sepertinya sulit sekali untuk mendapatkan armada taksi yang mau masuk ke wilayah Rumah Sakit, saya memutuskan untuk meminta jemput kakak saya kembali dengan resiko menunggu lebih lama. Sebetulnya poin dari kejadian ini bukan hanya masalah “kesal-kesalan” karena tidak mendapat taksi akan tetapi berikut beberapa hal yang saya garis bawahi dari kejadian ini: 1. Penguasaan wilayah-wilayah tertentu oleh armada taksi Saya tidak mempermasalahkan hal penguasaan wilayah, saya pikir boleh lah menguasai satu wilayah dengan nama armada tertentu, tapi tolong lah…berikan pelayanan yang baik dan nyaman terhadap penumpang.
2. Rumah Sakit tidak memfasilitasi Dengan kejadian tersebut saya jadi berpikir sepertinya pihak RS pun tidak memberikan fasilitas khusus tempat “mangkal” taksi. Hal ini terlihat dari kebiasaan taksi yang mangkal dipinggir jalan. Seharusnya hal ini diperhatikan pula sebagai sumber ketidaknyamanan pengunjung RS, pertama akan berpotensi membuat macet, kedua akan terjadi momen “taksi sulit mundur” seperti yang saya alami.
3. Pelayanan minus = Black list Saya tidak tahu apakah setiap armada taksi memiliki standard pelayanan prima terhadap pelanggan? Karena sebetulnya hal ini akan berpengaruh sekali terhadap loyalitas pelanggan dalam menggunakan satu merk armada tertentu.
Di luar daripada itu saya hanya mengharapkan bahwa seharusnya hubungan penyedia dan penerima jasa berjalan dengan harmonis. Penyedia jasa mendapat keuntungan penerima jasa mendapat kepuasan pelayanan. Bukankah itu kunci dari keberlangsungan bisnis jangka panjang? [] |
