galantri's posterous

Konkusio

 

“Konkusio” merupakan sebuah istilah medis yang berkaitan dengan kehilangan kesadaran dan ingatan akibat cedera pada otak. Istilah ini saya temukan setelah dengan amat panasaran mencari artikel mengenai gangguan ingatan pasca benturan kepala. Hal ini didorong karena beberapa ingatan saya tidak dapat di- recall pasca kejadian kecelakaan beberapa waktu lalu. Akhirnya pencarian saya terjawab lengkap di sebuah situs beralamat http://medicastore.com/penyakit/687/Cedera_Kepala.html berikut saya bagi sebagian kutipannya :

Konkusio merupakan suatu kondisi hilangnya kesadaran (dan kadang ingatan) sekejap, setelah terjadinya cedera pada otak yang tidak menyebabkan kerusakan fisik yang nyata. Konkusio menyebabkan kelainan fungsi otak tetapi tidak menyebabkan kerusakan struktural yang nyata. Hal ini bahkan bisa terjadi setelah cedera kepala yang ringan, tergantung kepada goncangan yang menimpa otak di dalam tulang tengkorak.

Konkusio bisa menyebabkan kebingungan, sakit kepala dan rasa mengantuk yang abnormal; sebagian besar penderita mengalami penyembuhan total dalam beberapa jam atau hari. Beberapa penderita merasakan pusing, kesulitan dalam berkonsentrasi, menjadi pelupa, depresi, emosi atau perasaannya berkurang dan kecemasan.

Gejala-gejala ini bisa berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa minggu, jarang lebih dari beberapa minggu. Penderita bisa mengalami kesulitan dalam bekerja, belajar dan bersosialisasi. Keadaan ini disebut sindroma pasca konkusio. Sindroma pasca konkusio masih merupakan suatu teka-teki; tidak diketahui mengapa sindroma ini biasanya terjadi setelah suatu cedera kepala yang ringan.

Para ahli belum sepakat, apakah penyebabkan adalah cedera mikroskopi atau faktor psikis. Pemberian obat-obatan dan terapi psikis bisa membantu beberapa penderita sindroma ini. Yang lebih perlu dikhawatirkan selain sindroma pasca konkusio adalah gejala-gejala yang lebih serius yang bisa timbul dalam beberapa jam atau kadang beberapa hari setelah terjadinya cedera.

Jika sakit kepala, kebingungan dan rasa mengantuk bertambah parah, sebaiknya segera mencari pertolongan medis. Biasanya, jika terbukti tidak terdapat kerusakan yang lebih berat, maka tidak diperlukan pengobatan. Setiap orang yang mengalami cedera kepala diberitahu mengenai pertanda memburuknya fungsi otak. Selama gejalanya tidak semakin parah, biasanya untuk meredakan nyeri diberikan asetaminofen.

 

It Called “Destiny”


Holaa…lama sekali nampaknya saya tidak menyentuh tuts keyboard, jika diingat-ingat tepatnya  10 hari sejak kecelakaan yang cukup membuat saya “terkapar” selama beberapa hari. It’s all about destiny! Sesuai judul yang saya munculkan diatas, semua memang sudah menjadi takdir bagi saya untuk mengalami sebuah kecelakaan di hari Minggu malam 09 Oktober 2011 pukul 19.00 WIB.


Sedikit flashback saja, pada saat itu saya beranjak pulang setelah bertemu seorang teman dan berbincang cukup lama dengannya di sebuah café di jl. Soekarno Hatta-Bandung. Setelah perbincangan selesai dan khawatir pulang terlalu malam, akhirnya kami beranjak pulang.


Pulang tanpa firasat apapun, kami berdua berjalan ke tepi jalan,bermaksud menyebrang. Kondisi jalan pada saat itu tidak padat, namun memang sedikit gelap karena penerangan jalan yang ada kurang memadai. Jl.soetta yang cukup lebar dan kecepatan kendaraan yang rata-rata tinggi, mengharuskan kami menunggu hingga jalan benar-benar aman untuk disebrangi.


Sebrangan pertama aman, kami kemudian menunggu di tengah pembatas jalan untuk sebrangan kedua. Ketika akan menyebrang kedua kalinya, dari jauh memang sudah terlihat sebuah motor, kami kemudian menyebrang karena masih mengukur jarak tersebut aman. Ketika sudah berada di tengah sebrangan, motor semakin mendekat,tetap melaju kencang dan tidak berusaha menghindar.


Akhirnya tabrakan terjadi, menurut info saya tertabrak hingga terpental, kondisi rekan saya tidak begitu parah, karena posisi saya sebelah kiri dan arah motor dari arah kiri pula. Dampak dari kejadian tersebut saya kehilangan beberapa memori (Hingga saat ini masih dalam pemulihan dan tetap harus dilatih),tangan kanan retak, kepala memar, kaki kanan dijahit, dan kaki kiri luka-luka. Kondisi barang-barang yang saya bawa tidak jauh berbeda, kacamata pecah, smua gadget di dalam tas (laptop & handphone) pun dalam kondisi retak-retak.


Namun, di atas smua yg terjadi saya bersyukur sekali karena masih diberi kekuatan dan kemampuan,alhamdulillah… Semoga Allah yang Maha Besar menganugerahkan pula pemahaman pada saya atas lautan hikmah dari kejadian ini.


The last but not least… Terima kasih banyak kepada rekan, sahabat,saudara yang tak henti-hentinya memberi doa dan support, semoga Allah SWT membalas dengan yang lebih baik. Amin…

 

Nak,letakan dunia di tanganmu bukan di hatimu!

Surat Kepada Calon Pendamping

Wahai engkau calon pendampingku...

Semalam aku bermimpi, bertemu denganmu sebagai suamiku. Dalam sebuah perjalanan panjang, panas terik dan lapar menjadi teman kita, namun kau hanya ingin terus berjalan. Tak berapa lama kau mengajakku berhenti, menggenggam tanganku erat, lalu aku bertanya: “Kita akan kemana?” . Kau hanya menjawab dengan senyummu. Aku mengikuti langkahmu, pelan namun pasti, tampaklah sebuah pasar di hadapan. Kau tetap menggenggam tanganku dan tersenyum lalu berkata : “Aku akan membelikanmu sepasang sandal sayang...”

Aku tertunduk, merasa bahagia namun perlahan-lahan menjadi sedih yang tak tertahankan. Aku menangis, kau memelukku dan berkata “Jangan menangis sayang”. Aku memandang matamu lekat dan kaupun kembali memelukku erat sambil berkata “Jangan menangis sayang”. Aku semakin tersedu, di pelukanmu tentu, dan kau semakin memelukku dan berkata “Jangan menangis sayang, aku akan membelikanmu sepasang sandal” kali ini air matamu pun jatuh. Tahukah kau wahai calon pendampingku? Dalam mimpi itu aku tak punya sepasang kaki.

Wahai engkau calon pendampingku...

Maukah kau menerima aku dengan segala ketidaksempurnaan aku kini dan kelak...?

Refleksi Mimpi 28 September 2011

“Menceburkan” Diri Dalam Wirausaha

Judul yang aneh ya? Haha, tak apalah karena saya juga bingung bagaimana mencari diksi yang tepat bagi postingan kali ini. “Mencebur” merupakan suatu aktifitas menjatuhkan (membuang) sesuatu ke dalam air, adapun menceburkan diri tentunya tak jauh pengertiannya dari definisi tersebut.

Lalu apa yang ingin saya bagi tentang “cebur-mencebur” ini? Banyak dari kita mungkin memiliki keinginan yang menggebu sekali untuk melakukan satu aktifitas wirausaha. Beberapa mungkin sudah lebih maju dengan melakukan sedikit riset dan analisis kecil-kecilan, tapi cukupkah itu? Tentu tidak! Ibarat orang yang ingin belajar berenang, akankah anda dapat mahir berenang jika hanya berdiri di tepian memperhatikan kolam dan menerka-nerka kedalaman air yang akan diselami, How come?! Mencebur saja tidak. Begitupun wirausaha, akankah kita tahu sejauh mana kegiatan usaha itu dapat memberikan keuntungan jika mencoba melangkah pun tidak? Takut rugi? Bukan alasan! Karena anda tidak akan dapat memahami nikmatnya berusaha tanpa jatuh bangun di dalamnya!

Memang tidak mudah membulatkan niat dan mewujudkannya dalam langkah, seringkali pikiran dan pertimbangan yang “terlalu” panjang menjadikan usaha layu sebelum berkembang atau lebih tepatnya bangkrut sebelum berjalan. Mungkin anda berpikir bagaimana bisa usaha bangkrut sebelum dijalankan? Tentu bisa! Semua pikiran dan pertimbangan yang terlalu panjang itu pada akhirnya menyampaikan kita pada suatu kesimpulan bahwa usaha yang kita rencanakan akan membuahkan kerugian. Betul kan? Saya yakin betul! karena sayapun pernah mengalami hal yang sama.

Mari kita pelajari ilustrasi berikut:

Pak Bagus mencoba menjalankan usaha budidaya lele. Menurut informasi yang dia dapatkan, usaha budidaya lele sangat menguntungkan dengan sistem pemasaran yang tidak begitu rumit. Setelah tiga bulan berjalan, ternyata semua tak seperti yang dibayangkan. Perkembangan lele tidak berjalan mulus, hampir 70% lele yang mati. Belum lagi operasional yang membengkak karena biaya pakan yang tinggi. Dari seluruh modal yang dikeluarkan, Pak Bagus masih belum dapat menghasilkan keuntungan bahkan dapat dikatakan mengalami kerugian.

Tapi benarkah apa yang dialami Pak Bagus di atas adalah sebuah kerugian? Tentu saja tidak! Banyak pelajaran yang dapat diambil oleh Pak Bagus. Setelah budidaya lele yang kurang baik itu mungkin akan terpikirkan bagaimana pengkondisian media lele agar lebih support? Bagaimana sistem pengaturan pemberian pakan agar lebih efektif dan efisien?  Atau mungkin apa alternatif pakan yang dapat diberikan?  Lalu, masihkah itu dikatakan sebuah kerugian? Jika boleh saya komentari, Pak Bagus sesungguhnya bukan mengalami kerugian dari modalnya yang tidak kembali, tapi sedang melakukan investasi pembelajaran bagi dirinya sendiri untuk melanjutkan kegiatan usaha yang lebih baik.

Dari ilustrasi di atas kita dapat mempelajari bahwa terkadang dalam berwirausaha kita akan menghadapi hal-hal yang kita pikir di luar batas kemampuan kita. Rumit, sulit, tidak mengerti, bahkan terkadang sampai putus asa itu adalah hal yang lumrah, namun menyerah begitu sajakah? Tentu saja tidak! Dibutuhkan mental pemberani dan pantang menyerah untuk menghadapi semua tantangan dalam berwirausaha. Dan kita harus yakin bahwa kita adalah pemenang. Lalu, apa yang harus dilakukan kemudian? Jangan terlalu lama berdiri di tepian kolam! Mencebur saja!

Diam

Diam tak lagi bersahabat
Dalam bentuknya yang tak lagi biasa
Dia menjelma menjadi perupa
Menjalin pendar-pendar menemukan kobarannya
Dalam nyata yang sejatinya adalah bara

Babap

Malam ini saya sampai di rumah cukup larut, ada beberapa hal yang harus diselesaikan. Pekerjaan? Ya, tentu saja. Babap tak pernah marah karena saya pulang larut, karena biasanya saya sudah memberitahukan minimal 2 jam sebelumnya bahwa saya akan pulang telat. Tapi apakah dengan begitu beliau tidak khawatir? Tentu saja iya. Namun sekali lagi, ia tak pernah sekalipun memarahi saya, dan jujur saja justru dengan begitu saya amat sangat merasa bersalah jadinya.

Seisi rumah sudah terlelap, termasuk Babap, tertidur pulas di ruang tengah menunggu anak bungsunya pulang. Tiba-tiba haru sekali rasanya, dalam balutan malam yang hening saya terdiam, memandangi Babap yang tertidur pulas. Garis wajahnya seperti lelah, namun tak pernah sedikitpun saya dengar keluhan diucapkan olehnya. Tiba-tiba saya merasa ingin sekali memeluknya (yang sedang tertidur lelap itu), mengatakan padanya bahwa saya sungguh sangat menyayanginya, memohon maaf karena saya belumlah dapat memberi hal-hal terbaik untuknya.
Babap tak pernah menuntut apapun dari saya, tak pernah meminta apapun dari saya, membiarkan saya memilih apa yang ingin saya pilih, selalu mendukung apapun cita-cita dan mimpi saya walaupun terkadang mungkin itu berat untuknya. Babap tak pernah komplain dengan sikap idealis saya yang terkadang tidak realistis. Tapi itulah Babap, selalu luar biasa mendukung dan membuat saya yakin bahwa semua mimpi itu akan dapat diwujudkan.

Kali ini saya ingin sedikit bernostalgia, mengenang masa-masa indah bersama babap. Saya masih ingat, ketika babap menjemput saya pada saat sekolah dasar. Sepulang bekerja, dalam kondisi lelah tentunya, dan di tengah hujan lebat, Babap menunggu di luar kelas, dengan payung di tangan menunggu saya keluar kelas lalu pulang bersamanya. Dan sayapun masih ingat ketika Babap berusaha sekuat tenaga membuatkan saya sebuah ‘katapel’ karena saya terus menerus merengek meminta katapel supaya bisa bermain dengan teman-teman yang lain. Saya masih ingat pula dengan jelas, saat Babap membeli koran pagi-pagi, hanya untuk melihat nama saya tercantum dalam daftar nama-nama yang lulus SPMB. Saya masih ingat ketika Babap sudah bangun dan bersiap sejak pukul 04.00 shubuh hanya untuk mengantar saya yang pada saat itu tengah mengikuti Ospek. Saya juga masih ingat ketika Babap membuka pintu kamar saya dan bertanya “belum tidur?” ketika saya tengah menunggu beratus2 lembar skripsi selesai di-print. Saya masih ingat, ketika mata Babap berkaca-kaca melihat saya memakai toga. Dan sayapun masih ingat ketika bulan lalu maag kronis saya kambuh dan saya collaps, di tengah perjalanan menuju UGD Babap memeluk saya erat dan berkata “harus kuat!seperti kamu yang biasanya kuat!harus kuat!”. Saya masih ingat semua itu...

Saya masih ingat semua masa-masa itu, dan saya pun akan terus mengingat bahwa malam ini saya duduk di depan Babap yang tengah tertidur pulas, memandangi wajahnya, dan berjanji bahwa saya akan membuatnya bahagia.

Babap

Malam ini saya sampai di rumah cukup larut, ada beberapa hal yang harus diselesaikan. Pekerjaan? Ya tentu saja. Babap tak pernah marah karena saya pulang larut, karena biasanya saya sudah memberitahukan minimal 2 jam sebelumnya bahwa saya akan pulang telat. Tapi apakah dengan begitu beliau tidak khawatir? Tentu saja iya. Namun sekali lagi, ia tak pernah sekalipun memarahi saya, dan jujur saja justru dengan begitu saya amat sangat merasa bersalah jadinya.

Seisi rumah sudah terlelap, termasuk Babap, tertidur pulas di ruang tengah menunggu anak bungsunya pulang. Tiba-tiba haru sekali rasanya, dalam balutan malam yang hening saya terdiam, memandangi Babap yang tertidur pulas. Garis wajahnya seperti lelah, namun tak pernah sedikitpun saya dengar keluhan diucapkan olehnya. Tiba-tiba saya merasa ingin sekali memeluknya (yang sedang tertidur lelap itu), mengatakan padanya bahwa saya sungguh sangat menyayanginya, memohon maaf karena saya belumlah dapat memberi hal-hal terbaik untuknya.
Babap tak pernah menuntut apapun dari saya, tak pernah meminta apapun dari saya, membiarkan saya memilih apa yang ingin saya pilih, selalu mendukung apapun cita-cita dan mimpi saya walaupun terkadang mungkin itu berat untuknya. Babap tak pernah komplain dengan sikap idealis saya yang terkadang tidak realistis. Tapi itulah Babap, selalu luar biasa mendukung dan membuat saya yakin bahwa semua mimpi itu akan dapat diwujudkan.

Kali ini saya ingin sedikit bernostalgia, mengenang masa-masa indah bersama babap. Saya masih ingat, ketika babap menjemput saya pada saat sekolah dasar. Sepulang bekerja, dalam kondisi lelah tentunya, dan di tengah hujan lebat, Babap menunggu di luar kelas, dengan payung di tangan menunggu saya keluar kelas lalu pulang bersamanya. Dan sayapun masih ingat ketika Babap berusaha sekuat tenaga membuatkan saya sebuah ‘katapel’ karena saya terus menerus merengek meminta katapel supaya bisa bermain dengan teman-teman yang lain. Saya masih ingat pula dengan jelas, saat Babap membeli koran pagi-pagi, hanya untuk melihat nama saya tercantum dalam daftar nama-nama yang lulus SPMB. Saya masih ingat ketika Babap sudah bangun dan bersiap sejak pukul 04.00 shubuh hanya untuk mengantar saya yang pada saat itu tengah mengikuti Ospek. Saya juga masih ingat ketika Babap membuka pintu kamar saya dan bertanya “belum tidur?” ketika saya tengah menunggu beratus2 lembar skripsi selesai di-print. Saya masih ingat, ketika mata Babap berkaca-kaca melihat saya memakai toga. Dan sayapun masih ingat ketika bulan lalu maag kronis saya kambuh dan saya collaps, di tengah perjalanan menuju UGD Babap memeluk saya erat dan berkata “harus kuat!seperti kamu yang biasanya kuat!harus kuat!”. Saya masih ingat semua itu...

Saya masih ingat semua masa-masa itu, dan saya pun akan terus mengingat bahwa malam ini saya duduk di depan Babap yang tengah tertidur pulas, memandangi wajahnya, dan berjanji bahwa saya akan membuatnya bahagia.

Rindu itu...

Rindu itu selalu saja lucu

Malu-malu mengintip

Di balik debar-debar hati

Posted July 8, 2011

A Letter From Princess Mia


Beberapa bulan lalu ada sebuah proyek yang mengharuskan saya bersama rekan bertemu dengan intens. Karena pembahasannya yang cukup memakan waktu maka dipilihlah rumah rekan saya itu sebagai basecamp tempat kami membahas semua konsep. Di kunjungan pertama, saya bertemu dengan anak bungsu rekan saya itu, umurnya sekitar lima tahun, sebut saja Mia namanya.

Karena seringnya bertemu, saya dan Mia semakin akrab. Ketika saya datang Mia langsung menghampiri dan menyapa:

“Hai Tante Mira, apa kabar?”

Hingga pada suatu waktu, rekan saya harus menghadiri undangan pernikahan salah seorang temannya sebelum kami membahas konsep dan agenda pertemuan pada hari itu. Alhasil saya harus menunggunya untuk beberapa jam. Sambil menunggu saya membaca, mendengarkan lagu, sedikit menulis, tapi tetap saja lama-lama bosan juga. Di tengah kebosanan yang memuncak itu, tiba-tiba munculah Mia dari balik pintu:

“Tante sedang apa?”

“Eh..ade (panggilan Mia di rumah), umm..tante lagi baca”

“Ade temenin ya?”

Akhirnya penantian saya akan rekan yang sedang berangkat kondangan itu terobati juga. Saya dan Mia membicarakan banyak hal, dia anak yang sangat menarik dan aktif bicara. Dia bercerita tentang temannya di sekolah, tentang gurunya yang baik sekali karena mau mengantar pulang, tentang cerita hantu yang dia dengar di sekolah, sampai kesukaannya pada semua tokoh kartun princess.

Setelah rekan saya kembali, perbincangan saya dan Mia terhenti. Sebelum Mia beranjak saya berkata padanya:

Princess...terima kasih ya sudah menemani tante”

“Iya..” Mia menjawab sambil tersenyum-senyum, mungkin surprise karena saya memanggilnya Princess.

“Tante mau kasih hadiah untuk princess boleh?” lalu saya memeluk Mia dengan hangat “Hadiah pelukan untuk Princess Mia...Tante sayaaang Princess Mia”

Mia tersenyum dan berlalu.

Beberapa hari kemudian saya kembali berkunjung. Karena dikejar deadline saya dan rekan melakukan pembahasan konsep dari pagi hingga petang. Ketika bersiap akan pulang, Mia kembali muncul dari balik pintu:

“Tante mau pulang?”

“Iya sayang..”

“Ade punya hadiah untuk tante”

“Wuaah..hadiah apa itu?”

Lalu Mia menyodorkan sebuah amplop, di muka amplop tertulis:

Untuk   : Tante Mira Yang Cantik

Dari        :  Ade Yang Cantik Sekali

Saya tersenyum, lalu membuka amplop, Mia berkata:

“Itu Kakak yang nulis, tapi ade yang bikin gambar”

Di dalam amplop ada beberapa lembar kertas berisi gambar khas anak-anak. Lalu Mia kembali berkata:

“Itu untuk Tante Mira, boleh dibawa pulang ko tante”

“Terima Kasih Princess...” Ucap saya sambil memberinya pelukan erat.

Dalam perjalanan pulang saya berpikir, betapa seorang anak berusia lima tahun dapat merespon ketika diberi sebuah apresiasi kasih sayang. Saya memberinya sebuah pelukan dan memanggilnya princess, serta mengungkapkan bahwa saya sayang padanya dan dia membalas dengan memberi saya sebuah amplop cantik berisi gambar hasil karyanya.

Setelah hari itu, setiap bertemu Mia saya selalu memeluknya dan berkata:

“Tante sayaaang sekali sama Princess Mia...”  

  Dan Mia membalas pelukan saya erat serta mencium pipi saya, what a beautiful moment...

Posted July 7, 2011